Sensor Yang Menyebabkan Malas Membaca

Sensor Yang Menyebabkan Malas Membaca

photo_2016-09-23_15-49-45.jpg

Korban sensor yang malas membaca

Hai! Saya kembali lagi dengan tulisan “hukuman” dari grup Whatsapp Pojok WB. Kesalahannya? Kali ini agak konyol sih, karena saya share link Youtube. Sebagai anak baru nan polos, saya sungguh tidak mengetahui hal tersebut. Saya hanya berpikir link blog saja yang tidak diperbolehkan, namun kenyataannya tidak begitu. Pokoknya atas nama link atau tautan, tidak diperbolehkan dibagikan pada hari saya mendapatkan hukuman ini. Tapi lumayanlah, blognya jadi terupdate. Nanti saya akan coba sebar link lagi. Hahaha

Baiklah, kali ini saya dapat tema mengenai opini pribadi saya mengenai kejadian yang baru-baru ini sedang hangat dibicarakan di media sosial. Mengenai sensor yang dilakukan oleh KPI dan bonus temanya adalah mengenai rendahnya minat baca bangsa ini.

Sedikit meluruskan tentang penyensoran yang dilakukan katanya oleh KPI pada PON Bandung 2016 kemarin, dari berita yang telah saya baca, saya menyimpulkan bahwa penyensoran tersebut bukanlah perintah langsung oleh KPI. Melainkan itu adalah inisiatif dari stasiun TV yang meliput dan menayangkan tayangan yang disensor tersebut. Jadi, sampai di sini kita sepakat bahwa sensor yang terjadi pada PON kemarin bukanlah oleh KPI, melainkan inisiatif Televisi tersebut.

Mengenai sensor yang merajai dunia pertelevisian Indonesia beberapa tahun belakangan ini saya sebagai orang yang jarang menonton TV merasa tidak ada masalah sama sekali. Tapi opini saya, penyensoran yang terjadi pada Televisi Indonesia itu terlalu berlebihan sih. Saya pernah lihat ada foto kartun sizuka yang berbikini lalu di sensor, lucu sih kalo hal seperti itu disensor.

Lagipula, sensor yang dilakukan dengan cara mem-blur area yang dianggap terlarang tidak efektif menurut saya. Hal tersebut hanya akan efektif ketika dilakukan pada program yang bersifat recorded, pada acara yang bersifat live hal tersebut susah untuk dilakukan.

Sensor yang dilakukan pada film-film yang di tayangan pada televisi pun tidak lebih baik daripada sensor yang ada pada siaran berita. Rasanya menyedihkan menonton film yang penuh sensor dan pemotongan adegan dan diselingi oleh iklan yang bertubi-tubi hingga menyisakan durasi yang sedikit untuk film itu sendiri. Saya lebih memilih untuk mendownload film daripada harus merelakan waktu saya terbuang sia-sia  menikmati sensoran berbalut film.

Selain masalah sensor menyensor, permasalahan lain yang dihadapi oleh bangsa ini adalah rendahnya minat baca. Hal itu terbukti dengan masih sedikitnya pembaca blog ini. Hahaha. Menurut Anies Baswedan, Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara yang memilii daftar literatur. Sedih sekali rasanya menyadari kenyataan tersebut,

Padahal, untuk fasilitas saya rasa pemerintah sudah cukup memfasilitasi masyarakat untuk gemar membaca seperti dibangunnya pustaka-pustaka daerah yang memiliki koleksi bacaan yang beragam. Namun hal tersebut tidak juga otomatis menaikkan minat baca masyarakat Indonesia. Padahal menurut berita yang saya baca di Republika, Indonesia menduduki posisi nomor 35 di dunia dalam fasilitas perpustakaan.

Dan dikutip dari Republika lagi, bahwasanya hal yang menyebabkan rendahnya minat baca di Indonesia salah satunya adalah kegemaran orang Indonesia itu sendiri. Bangsa Indonesia lebih suka menghabiskan waktunya dengan mengobrol atau bercengkrama daripada larut dalam lautan aksara di dalam buku. Dan saya mengamini hal tersebut. Karena saya juga lebih suka bercerita daripada membaca.

Solusi? Sampai saat ini saya masih mencari solusi untuk mengatasi kemalasan diri sendiri untuk membaca. Padahal sudah bertumpuk buku-buku yang masih bersegel tergelatak pasrah di rak, siap untuk dibaca dan dipahami tulisan-tulisannya. Menurut saya sih biar ga malas membaca, jangan pernah menunggu mood. Kebetulan, saya ini orangnya moody-an. Sampai kadang bisa menunda lama hanya untuk melakukan hal sepele. Jadi? Yaudah bacalah bukumu mulai sekarang!

Terkahir, kok dua tulisan terakhir saya isinya hukuman saja yah? Perlu hukuman terus agar bisa konsisten nulis? Hmm..

https://sport.tempo.co/read/news/2016/09/20/103805675/deddy-mizwar-sesalkan-penyensoran-gambar-atlet-renang-pon
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/03/31/o4wcwi284-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah

Share this article!

Comments

  1. Besok bikin pelanggaran lagi dong 😀 Biar jadi rajin main ke blog uda….
    Iya, jadi berkurang baca akibat keasikan main game fam100. Salah siapa coba itu?

  2. Aku ga terima sama paragraf awal.
    Apaaaan newbie. Ih.

  3. Hal itu terbukti dengan masih sedikitnya pembaca blog ini.

    Kalau disini dibilang sedikit, punyaku apa :'(

    Wah, saya baru baca. Terima kasih untuk ulasannya. Menurut pandangan saya di Indonesia ini, yang seringkali demam penasaran, di blur pada bagian terlarang itu malah membuat mereka, anak kecil itu, malah makin penasaran dengan apa yang buram-buram itu

  4. Jadi poinnya adalah sering sering di hukum biar rajin menulis ya kang? hehehehe ada ada aja nih

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: