Jogja: Perjalanan Tanpa Rencana

Hey, I’m Back!

Cerita ini udah telat banget, tapi sayang banget kalo cuma tersimpan di otak. Dan mungkin tulisan ini saya akan bagi dalam beberapa bagian, biar ga kepanjangan.

Jadi ceritanya setelah beberapa minggu mencoba hidup di Ciledug pada bulan Maret lalu ( cerita tentang hidup di Ciledug akan saya tuliskan nanti ), saya merasa ada sesuatu yang kosong. Ya, emang sudah kerja sih di sana. Tapi, hati saya merasa kalo di sini bukan tempat saya. Saya butuh beberapa hari untuk menyegarkan otak dari rutinitas yang monoton layaknya robot. I think I need holiday.

Lalu terlintas di otak buat melarikan diri ke Jogja. Alasan utama saya ke Jogja adalah buat napak tilas kampus mantan, gak ding. Hahaha. Alasan sebenarnya adalah karena ada beberapa sodara yang tinggal dan juga kuliah di sana. Dan juga saya sudah lama tidak bertemu dengan mereka, mumpung masih di satu pulau, itung – itung bersilaturahmi? Alasan pelengkapnya? Pengen aja. Seru kayanya jalan ke Jogja sendirian.

Tapi, hal pertama yang saya lakukan adalah mengontak beberapa blogger yang saya kenal dan tinggal di Jogja. Sebut saja namanya Rini dan Anggi. Dan setelah mengontak mereka berdua, ternyata yang ada di Jogja cuma Rini, Anggi-nya lagi pulang kampong ke Manado. Diskusi lah saya sama Rini via Whatsapp, gimana – gimananya Jogja. Ditanya mau ke mana aja, saya bilang, “Nanti aja dipikirin, enakan jalan gak ada itin-nya. Lebih surprise.” . Tapi Rini tetap ngasih beberapa option buat jaga-jaga.

Sempat maju mundur juga sih mengingat budget saya yang minim, kebetulan saat harga tiket lumayan tinggi karena beberapa bulan lagi kan Ramadan. Belum lagi soal penginapan, saya cek – cek online harganya paling murah 70k. Rini bilang ada sih yang 50k, tapi ga bisa dibooking online.

Setelah ngobrol sama Rini, kemudian saya menghubungi adek sepupu saya yang kuliah di Jogja. Ngobrol – ngobrol. Sampai akhirnya dia bilang bisa jemput saya dan ngabarin abang sepupu saya yang tinggal di Kasihan, Bantul, deket kampus PGRI. Awalnya saya gak ingin “numpang” karena agak gak enak juga, soalnya dia juga udah berkeluarga juga.

Tapi setelah dipikir-pikir, lumayan menghemat budget juga. Jadilah saya ikut saja saran adik sepupu. Jadi, masalah penginapan aman! Tanpa perlu waktu lama, saya langsung memesan tiket kereta api online di situs jual beli online terpercaya. Saya sengaja pesan jadwal kereta yang malam selain bisa cabut sehabis kerja, saya juga bisa tiduran selama perjalanan.

FormatFactoryIMG_20170414_213836.jpg

Tanggal 14 April 2017 sekitar jam 5, saya langsung meluncur ke stasiun Pasar Senen. Naik KRL dari Jurangmangu. Saya kira saya bakalan datang terlalu awal dari jadwal keberangkatan kerete Bogowonto yang berangkat jam 21.45. Tapi ternyata, Jam 21.20 saya stuck di stasiun Gang Sention, nungguin KRL menuju stasiun Pasar Senin. Anjir, padahal jaraknya deket, tapi KRL saya naiki dari Tanahabang gak berhenti langsung di stasiun Pasar Senen, tapi malah di Gang Sention. Jadi saya mesti nungguin KRL dari Gang Sentiong ke Pasar Senen. Padahal jaraknya deket, men.

Awalnya masih kalem dan percaya diri plus males ngeluarin duit buat naik ojol biar cepet. Waktu berlalu, jam di handphone saya sudah berpindah ke angka 21.30. Fak! Mulai cemas, mana belum cetak tiket. Ngecek aplikasi KRL ternyata jadwalnya masih lama, dan kayanya ngeluarin duit buat ojol lebih worth deh daripada tiket ke Jogja hangus bersamaan dengan kenangan yang ada tentang Jogja.

Pesen ojol, minta dikebut. Tapi ada aja ya yang bikin sport jantung kalo dalam keadaan mendesak, drivernya membawa saya ke entah berantah dan terjebak dalam kemacetan. Sementara waktu tidak mau menunggu, sedikit panik dan perut juga kosong. Benar-benar pengalaman yang mengesankan.

Akhirnya dengan sedikit drama, sampai juga di stasiun Pasar Senen. Cetak tiket, beli snack dan minuman buat di perjalanan. Lalu check in, untung saja keretanya masih belum berangkat. Sampai di gerbong, lalu saya mencari tempat duduk. Ternyata drama tidak sampai di sana. Setelah menemukan kursi saya, ternyata sudah ada yang menduduki.

Sedikit basa – basi, saya pun bilang kalau kursi yang diduduki itu adalah kursi saya sambil memperlihatkan tiket. Tapi, mereka dengan sedikit memelas, ngomong begini, “Tukeran aja ya, Mas. Kami suami istri.” Kebetulan kursi dia di depan saya. Karena sudah terlalu lelah, malas dan perut lapar, akhirnya saya berikan tempat duduk tersebut untuk pasangan “ suami – istri tersebut”. Sebuah tindakan yang saya sesali selama perjalanan.

FormatFactoryIMG_20170415_051905.jpg

Terduga “suami – istri” yang mengadali saya.

Setelah saya perhatikan, sepertinya mereka bukan suami istri. Entahlah, intuisi saya berkata seperti itu. Saya adalah orang yang percaya akan intuisi sendiri. Gerak – geriknya juga tidak seperti layaknya suami istri. Tapi masih mencoba untuk berpikiran positif, mungkin pasangan baru menikah. Tapi semakin mencoba, hati saya semakin bertanya – tanya sambil sedikit memaki, masa iya suami istri kaya orang pacaran itu, mana gak malu – malu lagi. Setelah lelah berasumsi, akhirnya saya memutuskan untuk memejamkan mata dan menyumpal telinga dengan earphone dikarenakan cekikian ceweknya yang bikin muak.

Di stasiun Karawang kereta terhenti. Sepertinya bannya bocor. Hehehe. Lokomotif depannya bermasalah, cukup lama sekitar 1 jam-an tertahan di sana. Lumayan lah buat jalan – jalan di sekitar stasiun, bosan juga duduk di kursi ekonomi. Tertahannya kereta berimbas dengan jadwal tibanya di Stasiun Lempuyangan. Memasuki daerah Wates, Adik sepupu saya sudah menanyakan posisi saya di mana.

FormatFactoryIMG_20170415_000205_HDR.jpg

Hingga akhirnya sampai di stasiun Yogyakarta alias Tugu, tiba – tiba kepikiran buat turun di sini saja. Alasannya? Pengen foto di depan stasiun Tugu. Sungguh otak yang spontan bercampur norak. Lalu saya Whatsapp lah Sepupu saya.

“Uda turun di Tugu aja ya, jemput sini aja ya.”
“Eh, jangan. Kami udah di Lempuyangan.”

FormatFactoryIMG_20170415_073539_HDR.jpg

Gagal deh foto di depan stasiun Tugu. Akhirnya sampai Lempuyangan, saya langsung diajak menuju ke rumah Abang sepupu saya yang di Kasihan. Langsung ditodong bawa motor dong. Untung aja lalu lintas Jogja kaya Bukittinggi, gak kaya Ciledug. 😆

Next post: Sehari Menjelajahi Jogja bersama Rini.

FormatFactoryIMG_1446.jpg

 

Mwah!

Share this article!

Comments

  1. Harus banget ada mwahnya dj ending?

  2. Woyy kan ngga cuma sama Rini doang -_- wkwk

  3. Alus ya sis :)))

  4. Kebayang betenya, menghadapi pasangan yang ngakunya suami istri itu! Kayaknya saya juga akan bersikap sama…mending tidur sambil menyumpal telinga dengan earphone.

  5. Anggi Bintang says:

    Ya, foto kaki doang. Muka, dong. Pengin lihat wajah terduga-suami-istri itu. Sekalian nama sama akun media sosialnya.

  6. Endingnya udaaa…
    Hahahaa…

  7. Aku penasaran sama kisah yang katanya suami istri itu, Da.
    Plus menanti kelanjutan cerita jalan-jalannya.

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: